Jumaat, 20 Februari 2009

Episod Luka Cinta

Suara-suara sedih luka dan pilu
Suara-suara lantang memperjuangkan cinta
di depan mata tidak diendah
hilangkah sudah putih warna di jiwa

Tangisan menyayat hati
gundah dikecewakan cinta penuh pancaroba
telah mengejutkan lena yang panjang
di kamar beradu yang bertilamkan lantai papan
telah meragut sisa-sisa waktu
di ruang istirahat yang bertemankan remang senja
telah memutik semangat juang segar
di muka pintu yang baru bersua fajar sidik
berganding bahu seia dan sekata
turut membasuh luka dan air mata
menjunjung kembali martabat
cinta yang telah dicemari noda.

Aku bermohon kepadamu Ya Rabb
agar episod luka ini segera berakhir
Hanya Engkau Yang Maha Mengetahui
Tentang kebenaran cinta ini
meniti tulus di jalanMu yang lurus.

2 ulasan:

KABASARAN berkata...

Hanya kepada ALLAH lah sejatinya cinta berhak kita persembahkan.

Mencinta orang , orang kan mati.
Mencinta harta, harta kan binasa
Mencinta diri, diri kan pergi

Cintailah yang abadi yaitu Sang Ilahi.

Nice poem

aranam berkata...

KABASARAN
Benar dan saya amat bersetuju. Hanya kepadaNya sejatinya cinta berhak kita persembahkan. Terima kasih atas kunjungan ke sini.